Explore Tokyo For The Very First Time (Part 1)

 

2018-08-25 08.41.52 1.JPG

Hai Teman-teman di tulisan kali ini saya akan bercerita tentang pengalaman saya melakukan traveling ke Jepang untuk pertama kalinya. Sebenernya gak Jepang juga sih karena waktu itu saya hanya explore Tokyo saja. Karena mungkin belum berani jauh-jauh ya dan juga sekalian cek ombak untuk trip-trip selanjutnya 🙂

Let’s get started…

Pengalaman pertama kali pergi ke Jepang ini terjadi di summer 2018 tepatnya 23-28 Agustus 2018. Berawal dari scrolling instagram di bulan Januari 2018 dan menemukan bahwa airasia membuka penerbangan langsung Jakarta – Tokyo. Langsung saja saat itu juga , saya menelepon istri saya untuk meminta persetujuan. Tiket PP Jakarta-Tokyo dibanderol hanya Rp 2.500.000,00 saja sudah termasuk pajak. Rute favorit yang katanya selalu penuh, walaupun pada bulan Oktober 2018 Airasia menyerah dan menutup rute tersebut, dengan alasan klasik. Ga balik modal. 

Segera setelah memiliki tiket pesawat saya mulai research mengenai syarat-syarat pengajuan visa jepang. Karena buat saya pada saat itu, visa menjadi isu penting karena saya dan istri membuat tabungan secara bersama. Jadi ada account yang banyak banget uangnya, sementara account saya uangnya kayak uang anak kos. Jadi harus berstrategi dengan mentransfer sejumlah uang dan mengendapkan di masing-masing rekening. Kalau tidak salah syaratnya sebesar Rp 60.000.000,00 selama 3 bulan berturut-turut. Persyaratan lain sih standar ya. Seperti pengisian form pengajuan visa, membuat itinerary selama di Jepang, KTP,KK…pokoknya visa Jepang ini mudah deh, mungkin karena pemerintah Jepang sendiri sedang giat untuk mendatangkan turis.

Selanjutnya hal yang penting juga ialah memilih akomodasi yang sesuai budget dan dekat dengan stasiun kereta. Pilihan jatuh kepada APA Hotel TKP Nippori Ekimae yang terletak hanya 2 menit dari stasiun Nippori ( yang kemudian saya sadari bahwa yang sering saya pakai adalah stasiun Nishi-Nippori berjaran 10 menit jalan kaki, bukan stasiun Nippori). APA Hotel sendiri adalah chain hotel yang cukup besar di Jepang. Hampir disetiap daerah dan kota di Jepang terdapat APA Hotel. Hotel ini merupakan hotel bisnis yang menawarkan harga yang sangat masuk budget, terutama untuk saya yang berencana pergi sebagai turis low budget.

Akomodasi selesai sekarang yang harus dipikirkan adalah transportasi selama di Tokyo. Seperti kita ketahui bersama Jepang memiliki sistem transportasi yang terintegrasi secara baik sekali. Tetapi di balik keteraturan transportasi Jepang, ada juga kebingungan yang luar biasa . Karena untuk kereta sendiri ada kereta biasa, kereta bawah tanah, monorail, dan shinkansen. Kereta biasa dioperasikan olah JR Group / JR east untuk wilayah tokyo sendiri. Nah pada JR Train terdapat sebuah line hot seat yang memutari pusat kota Tokyo, dikenal dengan nama Yamanote Line, karena memutari pusat bisnis ,komersil,dan pemerintahan line ini vital banget buat kota Tokyo. Lalu kereta bawah tanah dioperasikan oleh Tokyo Metro dan Toei Subway, yang membedakan adalah jalur yang dibuat terpisah dengan beraneka ragam warna line. Jumlah linenya 13, bandingkan dengan Singapore yang jumlah linenya hanya 6. Lalu untuk pembayaran penggunaan kereta terbagi 3 juga. Pertama dengan menggunakan uang cash/ membeli tiket di tempat yang sangat tidak direkomendasikan karena pusingnya nauzubillah. Kedua dengan menggunakan IC Card / E-Toll card Jepang, jadi kita tinggal tap in tap out dan saldo akan berkurang sesuai dengan harga transportasi kita. O iya IC Card juga ada 2 jenis ya di Tokyo, Suica dan Pasmo, fungsi dan kegunaan sama, bisa untuk kereta, minimarket,dan vending machine. Yang Ketiga adalah membeli free pass tokyo metro. Tersedia untuk 24 jam, 48jam, dan 72 jam. Yang ini kemudian menjadi pilihan saya.

Visa sudah, akomodasi sudah, transportasi sudah. Nah cakep nih tinggal buat itinerary aja yang bisa cover 5 hari 4 malam dengan puas. Selama proses pembuatan itinerary, saya melakukan digital research dengan membaca beberapa blog yang sangat membantu saya dalam trip ini, saya share aja ya yang pertama javamilk.com. Selain membahas tentang Jepang blog ini juga membagikan pengalaman untuk bepergian ke beberapa negara lainnya, yang pastinya informatif sekali. Yang kedua matcha-jp.com . Berbeda dengan yang pertama, kalau javamilk operatornya adalah perorangan, sedangkan matcha-jp operatornya adalah travel agent profesional. Yang jelas lebih mendetil, walau menurut saya secara bahasa saya lebih suka Javamilk. Selain blog saya juga menonton beberapa channel Youtube yang membahas mengenai traveling di Jepang. Antara lain ; Only In Japan (acaranya John Daub dari NHK Jpn),Only In Japan Go (live youtube nya John Daub), Paolo From Tokyo, dan Gareth Leonard. Sedangkan untuk mempelajari kebiasaan orang Jepang saya menonton channel milik Refa Kashiki orang Indo yang kebetulan bekerja di Jepang.

Setelah itu semua selesai, tinggal pergi ke money changer untuk menukar sejumlah uang ,pergi ke tour and travel untuk menyewa wifi yang dapat digunakan 5 device ,dan menunggu hari keberangkatan tiba.

Karena perparation awal sudah saya lakukan sejak bulan February, berarti saya harus menunggu selama 6 bulan sambil H2C semoga tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.

Kamis, 23 Agustus 2018

Flight kami sebenarnya pkl.23.50, tetapi karena pada saat itu jalan tol Cipularang dalam proses pembuatan elevatenya, tidak bijak rasanya kalau kami baru pergi 7 jam sebelumnya seperti yang operator bus primajasa sarankan waktu itu. Jadi kami memutuskan untuk pergi pada pukul 7 pagi dan membuka kamar hotel untuk menunggu waktu check in. Kami pergi menggunakan bus primajasa dan kebetulan pada saat itu jalanan sangat lancar. Sehingga dalam 2,5 jam saja kami telah tiba di bandara soekarno hatta terminal 3. Setiba di bandara, kami meminta penjemputan oleh Zest Hotel tempat kami menunggu waktu check in pesawat. Karena kami bilang bahwa kami menggunakan kamar hanya untuk menunggu waktu penerbangan maka kamipun dipersilahkan untuk check in lebih awal.

Pukul 19.00 kami diantar kembali oleh pihak hotel menuju terminal 3 bandara soekarno hatta. Sengaja kami berangkat lebih awal untuk makan malam dulu di bandara. Makan malam yang kemudian menjadi bencana, setidaknya untuk saya 🙂 . Pada hari itu inget banget saya sudah punya target untuk makan malam di sebuah stand bubur yang terkenal pake banget. Biasanya saya makan bubur ini di daerah asal si bubur (susah banget ya ga sebut merk) dan semua baik-baik saja. Dan saya pikir makan di bandara, saya juga akan baik-baik saja. Selesai makan, check in, dan urusan imigrasi selesai, kami memilih leyeh-leyeh di depan kaca superbesar di ruang tunggu bandara. Karena pada saat itu gate airasia x belum di tentukan, maka kami memilih menunggu di tengah-tengah. Ya namanya juga menunggu, waktu diisi dengan ngobrol, jalan-jalan kecil, beli minum, dan pergi ke toilet. Dengan semangat yang luar biasa saya juga merasa sering ke toilet sebagai hal yang biasa. Ya dari pada mau bab atau pee di pesawat, abisin dulu aja deh. Sampai pukul 23.00 gate kami ditentukan dan ternyata kami harus berjalan 1/2 bandara untuk sampai di gate itu. Nah problem muncul tuh. Ketika jalan, kok perut rasanya ga enak ya. Ke wc dl lah, mencoba untuk bertapa tapi koq ga keluar, tapi sakit perut. Panggilan untuk masuk pesawat pun terus berbunyi. Saya pun segera keluar dari toilet disambut muka cemberut istri saya yang bilang, “Koq ga dari tadi sih”. Setengah berlari + merasakan sakit perut itu sesuatu banget, sesampainya di gate harus mengantri pula. Lengkap sudah. Masuk ke dalam pesawat, kondisi perut tidak membaik, bahkan ketika saya mencoba tidur sekalipun rasa sakitnya muncul hilang. Sebagai orang yang menganut bab itu perlu air, maka ide untuk bab di pesawat pun saya buang jauh-jauh. Jadi saya menerima konsekuensi untuk menahan sakit perut selama 7,5 jam flight jakarta-Tokyo. Penyebab sakit perut ini mungkin masuk angin, atau mungkin karena bubur seafood yang barusan saya makan sudah tidak fresh. Mungkin.

Saya duduk terpisah dengan istri saya. Jadi selama pergumulan saya menahan sakit perut, istri saya tertidur dengan cantiknya. Tuhan memang adil.

Pukul 09.30 WT kami mendarat di bandara Narita Tokyo. Sebenarnya di Tokyo ini ada 2 bandara, Narita dan Haneda. Kalau Narita adalah bandara yang sudah cukup tua dan berada sedikit di luar kota Tokyo. Haneda adalah bandara yang lebih baru yang terletak tidak jauh dari pusat kota Tokyo. Karena penerbangan promo, saya juga gak akan minta lebih dari yang di tawarkan. Proses imigrasi dan bagage claim berlangsung sangat cepat. Setelah pergi ke toilet untuk menyelesaikan urusan 7,5 jam yang ternyata tidak selesai juga, dan setelah di tertawakan oleh sang istri tercinta, kami pun resmi memulai perjalanan kami di Tokyo.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah mengaktifkan wifi yang sudah disewa, kenapa hal ini pertama kali harus dilakukan? simple we dont wat to get lost!!! ga mau nyasar. Lalu mencari counter HIS Travel untuk mengambil Tokyo Metro Pass yang sudah kami pesan melalui aplikasi Klook. Wifi sudah Tokyo metro pass sudah. Lalu memilih akses menuju Hotel kami di Nippori. Aksesnya ada 3 yakni SkyLiner 2500 Yen 40 menit sampay, Keisei Line 1042 Yen 80 menit sampai, dan kereta biasa kurang lebih 500 yen 100 menit sampai. Istilahnya cepet, sedang, lambat. Karena faktor sakit perut yang luar biasa dan perlu istirahat, maka kami memilih Skyliner biar cepet beres urusan perut saya.

Pengalaman membeli tiket skyliner di narita cepet banget, datang ke loket bayar lalu keluar tiket lengkap dengan waktu keberangkatan, kereta nomor berapa dan kursi nomor berapa. Kereta pun berangkat tepat waktu, ini melegakan karena saya sedang tidak enak badan. Perjalanan hanya memakan waktu kurang lebih 40 menit. Turun di stasiun Nippori dan merasa senang karena hotel kami benar-benar hanya berjarak 2 menit dari stasiun tersebut.

IMG-20180905-WA0010

(mengantri for the first meal sambil nahan sakit perut)

Proses early check in juga berlangsung cepat, kami hanya harus membayar 2000 yen sebagai kompensasi terlalu cepat masuk hotel. Dengan pertimbangan ingin cepat fit, maka harga tersebut mau kami bayar. Kira-kira 1 jam kemudian kami bisa masuk ke kamar hotel. Kamarnya kecil, bahkan di lorong masuknya saya tidak bisa melebarkan kedua tangan saya, tetapi bukan karena kamar hotel kecil jadi kualitasnya biasa aja. Mereka menyediakan sabun,shampo,dan conditioner shisedo yang membuat istri saya pingin membawa pulang (untung masih tau malu, tetapi amenytis habis di bawa kembali ke Indonesia). Peer pertama ketika memasuki kamar ini memang menggunakan kamar mandi untuk menunaikan urusan yang saya bawa dari Indonesia, mandi, makan obat, dan tidur. Kami check in pada pukul 13.00 dan pada pukul 15.00 saya sudah bangun kembali dengan segar dan siap untuk explore.

Keluar dari hotel udara summer Jepang mulai terasa, mungkin karena ketika baru tiba saya masih fokus dengan perut saya dan tidak merasakan panasnya udara. Karena kami menggunakan Tokyo Metro maka kami tidak dapat menggunakan stasiun Nippori tetapi harus menggunakan stasiun Nishi Nippori, sekitar 1,5 km dari hotel kami menginap. Dan percayalah summer dan harus berjalan sejauh itu merupakan hal yang sangat sulit. Apalagi dengan body gemuk lucu ini, dijamin gak bisa tampil ganteng karena keringat terus mengucur.

Destinasi pertama saya pada malam itu adalah Meiji Jingu Shrine, salah satu kuil shinto terbesar dan bersejarah di Tokyo. Perjalanan dari nishi nippori menuju Meiji jingu sangat mudah karena hanya menggunakan 1 line saja, line chiyoda dari stasiun 16 menuju stasiun 3 memakan waktu 26 menit saja, tanpa pindah kereta. O iya saya menggunakan aplikasi Tokyo Metro yang dapat di download di playstore dan app store. Aplikasi ini dapat digunakan secara offline, apabila menginginkan aplikasi yang online dan sesuai dengan waktu keberangkatan mungkin google maps bisa menjadi pilhan utama.

Sampai di stasiun harajuku yang ikonik dengan bentuk kunonya tinggal belok ke kanan, kita langsung menemukan gerbang Meiji Jingu yang ikonik. Meiji Jingu adalah sebuah kuil shinto yang sudah cukup tua, terkenal dengan koleksi sake yang dipajang didalam guci pada jajaran pintu masuk menuju kuil. Bunyi-bunyian serangga menjadi daya tarik Jepang pada musim panas, diluar panasnya yang dewa ya. Kuil meiji berbatasan langsung dengan yoyogi park yang terkenal dengan wisata melihat sakura ketika musim semi tiba. Sekali lagi karena cuaca sangat panas kami tidak menembus hingga yoyogi park, begitu sampai di bangunan utama, berfoto, balik bada dan kembali ke area harajuku menuju takeshita street. 

2018-08-25 02.38.24 1.JPG

(koleksi sake di Meiji Jingu Shrine)

Takeshita street adalah sebuah jalan yang terkenal dengan budaya kawainya. Di akhir minggu para remaja Jepang tidak ragu untuk berpenampilan unik yang membuat jalan ini jadi sangat berwarna. Nah buat teman-teman yang mencari daiso dan merion crepes di takeshita ini tempatnya. FYI crepes di jepang itu beda dengan crepes di indo, crepes jepang lebih kayak pancake yang dibuat sangat besar dan dijadikan cone untuk ice cream.

IMG_20180906_100251_032

(Merion Crepes di Takeshita Street)

Nah, takeshita juga merupakan jalanan yang menhubungkan harajuku dengan omotesando, sebuah wilayah yang dipenuhi toko-toko beebranded, termasuk gang-gang kecil dimana kita bisa menemukan toko-toko hype seperti SUPREME, A Bathing Ape, Undefeated, Stussy,Champion dll. Kalau cari Lukes Lobster bisa menemukannya di gang belakang kiddyland masih dalam wilayah omotesando. Dari Omotesando berjalan terus menuju Shibuya untuk melihat shibuya crossing dan patung hachinko, juga bertemu Antonius Andy teman yang kebetulan bekerja di Jepang, untuk makan malam bersama. Mungkin karena sudah agak sore jd suhu sudah tidak terlalu tinggi, bunyi-buyian serangga digantikan dengan suara burung gagak menambah syahdunya malam itu. FYI juga burung gagak di Jepang lebih besar dari ayam jantan dont make a mess deh.

Hari itu berakhir di Shibuya, kami makan malam di Kindemaru sebuah restoran ramen yang saya kenal dari reviewnya Jwestbros di Youtube. Ramennya menurut saya spesial, dari porsinya yang besar, kuah kaldu babinya yang lekoh, sampai samcan sebesar kepalan tangan saya di mangkuknya. O iya kindenmaru ini terletak di salah satu perlimaan di shibuya crossing. Kalau arah dari patung hachiko kita bisa melihat starbucks ambil jalan masuk di sebelah kiri starbucks ,letaknya persis di depan toko ramen lainnya Ippudo. 

Ya itu kira-kira series1 atau hari pertama selama hidup saya di Jepang. Karena setelahnya kami hanya berjalan-jalan sedikit mengunjungi toko onitsuka tanpa membeli, berpisah dengan Andy, pulang tersesat sedikit walau akhirnya tetap sampai hotel dan bisa beristirahat.

well sampai jumpa di episode 4 japan series 2 ya teman-teman…cheers

Leave a comment