Kalau dihitung-hitung semenjak hari pertama mendarat di haneda ,saya dan teman-teman sudah menginap di 4 hotel berbeda. Berarti semakin dekat dengan kota terakhir dan tanggal kepulangan kami. Pernah ga sih, merasakan mellow karena harus pulang di trip yang sudah lama di pikirkan dan di tunggu-tunggu? Semangat ketika membeli tiket pesawat, mempersiapkan segalanya. Eksited ketika menunggu hari keberangkatan, eh sekarang uda mau pulang lagi….kan jadi pingin beli tiket pesawat untuk kepergian selanjutnya. Oke skip. Mungkin saya hanya mellow.
20 Januari 2020
Siuman dari tidur kami yang nyenyak karena kelelahan pada pukul 5 pagi. Karena sudah sepakat dengan teman-teman yang lain untuk sepagi mungkin berangkat menuju Osaka, demi menghindari keramaian di waktu kerja. Pukul 7 pagi kami semua siap dan berangkat menuju stasiun terdekat beserta dengan koper-koper besar kami. Perjalanan Kyoto menuju Osaka sendiri hanya memakan waktu selama kurang lebih 30 menit dengan menggunakan kereta. Cukup singkat karena kedua kota berada di region yang sama yaitu Kansai. Berbeda dengan Kyoto. Osaka merupakan kota besar yang banyak memiliki gedung-gedung tinggi seperti di Tokyo. Yang membedakan mungkin level aware mereka dengan kebersihan. Apabila di Tokyo kita sulit menemukan sampah-sampah di jalanan, di Osaka menemukan sampah di daerah seperti Dotonburi mungkin menjadi hal yang sangat lumrah. Walaupun penyebabnya adalah turis asing bukan warga lokal.
Keluar dari Honmachi Station , stasiun terdekat dari hotel kami yaitu APA Hotel Osaka Midosuji Honmachi Ekimae. Kami hanya perlu berjalan sejauh 200 meter untuk sampai di hotel, check in , dan drop barang-barang kami. Setelahnya kami makan pagi di family mart untuk sarapan. Karena waktu sudah hampir mengharuskan kami pulang , sarapan pun kami selalu makan oden karena takut kangen…oke skip… Selagi makan pagi kami juga sekalian online checkin untuk penerbangan 2 hari selanjutnya.
Segera setelah sarapan ,kami menuju tujuan pertama kami yaitu Kuromon Market. Sebuah pasar ikan seperti Tsukiji dan Nishiki. Berbeda dari Tsukiji yang lebih tradisional dan Nishiki yang sangat modern. Kuromon lebih di level mid, tidak terlalu jadul dan tidak terlalu modern. Pengunjung yang membeli seafood disediakan tempat duduk untuk menikmati makanannya. Yang buat menjadi advance ialah tempat duduk yang disediakan sangat bagus sekali penampakannya. Bukan sekedar tempat duduk ala-ala dan ala kadarnya.

(tempat makan di salah satu tenan seafood di Kuromon, yang menyatu dengan arena game)
Kualitas seafood di Kuromon jelas sangat luar biasa, pertama saya mencoba scallop yang memiliki ukuran raksasa. Scallop ini disajikan dengan dibakar terlebih dahulu setelah di steam sebelumnya. Disuguhkan dengan banjuran saus tiram membuat rasa yang di keluarkan semakin luar biasa. Dagingnya tebal, tapi setelah dipotong oleh gigi meleleh di lidah dalam gigitan ke 3. Saya membeli 1 tusuk scallop untuk 2 orang. Sayang rasanya karena banyak yang akan kami coba lagi.
Selanjutnya daifuku. Strawberry mochi yang sangat terkenal di Jepang sebagai dessert yang menyenangkan. Kali ini saya membeli strawberry merah dengan mochi greentea. Strawberry nya asam dan di netralisir dengan rasa mochi yang tidak terlalu manis.

(Daifuku Kuromon Market)
Hanya saja apabila disuruh membandingkan, saya lebih suka daifuku Tsukiji daripada Kuromon. Alasannya hanya 1, mochi yang disajikan di kuromon dingin. Sehingga rasanya tidak total keluarnya.
Sebagai pasar seafood yang ternama, pastinya seafood menjadi target utama di Kuromon. Selanjutnya kami mencoba baby octopus yang terkenal itu. Beda dengan baby octopus yang disajikan di restoran sushi di Indonesia. Baby octopus di kuromon market disediakan diatas stick kayu. Rasa overall sama, tetapi yang membuat makanan ini jadi istimewa adalah telur puyuh yang dimasukkan kedalam kepala si baby octopus. Caranya bagaimana? sayapun bingung.

(didalam kepala yang besar itu, berisi telur puyuh)
Selanjutnya steamed crab stick. Ingat crab stick jatuh yang buat saya bete di Fushimi Inari? karena hari ini temanya mengunjungi Fish Market, saya mau balas dendam. Ada sebuah tenan yang menyajikan steamed crab stick dan kanimiso ( bagian kepala kepiting yang diisi daging kepiting, keju,dan disajikan setelah dibakar oleh blue torch). Kami beli-lah 2 macam makanan ini dengan harga yang cukup mahal, hampir 1200 Yen kalau tidak salah ingat. Hanya saja kapan lagi bisa menikmati fresh sea food seperti saat itu. Crab sticknya fantastis, ketika gigitan pertama, daging yang kita gigit ‘murudul’ didalam mulut kita. Sempurna. Walaupun di steamed tetapi tidak anyir sama sekali. Sementara kanimiso-nya juga dewa. Saya bukan pencinta kepiting, tetapi setelah makan crabstick dan kanimiso di Kuromon mungkin saya akan jadi sedikit suka. Sama-sama tidak anyir dan rasanya legit dengan perpaduan daging kepiting dan keju.

(kemarin crabsticknya jatuh, sekarang fotonya ga fokus, heran itu tangan…)

(ketemu kanimiso gini sih angkat tangan, pasti suka)
Petualangan di kuromon market diakhiri dengan menu wajib ketika di Osaka yaitu takoyaki. Takoyaki di Osaka terkenal sejagad raya dengan keenakannya. Berbeda dengan takoyaki Luki di Indonesia. Lapisan luar takoyaki dibuat firm dan renyah, anehnya isiannya tetap lembut . Isiannya biasanya ialah tako atau octopus, takonya sendiri besar-besar dan gak pelit. Aturan pertama makan takoyaki ialah jangan dimakan langsung. Takoyaki harus didinginkan terlebih dahulu apabila lidah dan mulut kita tidak mau terbakar.

(tidak ada restoran spesifik untuk membeli takoyaki, semua enak)
Selesai dengan urusan perut di Kuromon Market terus terang kami bingung mau kemana karena memulai perjalanan sudah terlalu siang. Menurut itinerary kami seharusnya berpindah ke daerah Osaka Bay untuk menikmati view Tempozan Ferris Wheel. Tetapi karena jaraknya terlalu jauh maka kami memutuskan untuk menikmati Tsutenkaku Tower aka Osaka Tower dan sinsekai. Sinsekai adalah sebuah area tua yang berlokasi di selatan Osaka atau disebut minami area. Menariknya sejak area ini dibuat pada tahun 1912 dengan New York sebagai permodelannya. Sinsekai sendiri berarti dunia baru, yang diinisiasi oleh Zaman Meiji sebagai tonggak perubahan Jepang. Di area sinsekai ini jugalah terdapat Tsutenkaku tower yang sangat terkenal. Berbeda dengan sinsekai yang dibuat dengan New York sebagai percontohannya. Tsutenkaku Tower dibuat dengan menara eiffel sebagai percontohannya.
Menariknya tsutenkaku tower adalah kecanggihannya. Bahkan apabila menikmati Tsutenkaku ini di malam hari, kita dapat melihat menara ini meramal cuaca keesokan harinya, dengan lampu-lampu di puncak menara tersebut. Dibalik kecanggihannya tersebut Tustenkaku memiliki arti yang sangat mendalam bagi warga Jepang. Secara harafiah Tsutenkaku dapat diartikan sebagai bangunan menuju surga. Nama ini diinisiasi oleh bernama Fujisawa Nangaku pada awal Zaman Meiji.

(Shinsekai dan Tsutenkaku Tower in one frame)
Keresahan kami adalah perut kami sudah terlalu kenyang untuk mencicip makanan di Shinsekai. Tetapi ada makanan khas Jepang di Sinsekai yang tidak dapat kami tolak untuk makan. Yakni McD . Yang menarique dari McD Jepang ialah adanya burger Bacon McPork yang enaknya kelewatan. Untung saya gemuk jadi bisa masuk untuk 1-2 burger. Pertama kalinya saya senang jadi gemuk.

(Bacon McPork yang maha menarique)
Selesai dengan Sinsekai dan Tsutenkaku Tower kami bergeser ke area Dotonbori, yang terkenal dengan GlicoMan nya dan deretan restoran enaknya. Misi utama kami mengunjungi Dotonbori adalah untuk pergi ke Mega Don Quijote sebuah toko serba ada di Jepang versi besar. Don quijote adalah sebuah toko ritel yang menjual segala sesuatu yang berkaitan dengan Jepang. Dari makanan ringan, oleh-oleh, mainan anak, baju, sepatu, mainan ‘dewasa’, kostum cosplay, pokoknya everything you need about Japan is there.

(Don Quijote Dotonbori Osaka)
Dan membahagiakannya lagi Don Quijote ada di semua kota di Jepang , jadi ga perlu ribet untuk langsung belanja begitu menemukan toko dengan logo penguin biru ini. Shopping hacks untuk teman-teman yang mau pergi ke Jepang dan set waktu untuk beli oleh-oleh adalah list terlebih dahulu barang-barang yang mau dibeli di Don Quijote terdekat dan belilah barang-barang tersebut di Don Quijote kota terakhir yang di kunjungi. Karena kita akan endup nambah 1 koper lagi ketika pulang. Sama seperti pasangan teman saya yang keasikan belanja dan jastip yang endup membeli koper lagi di Don Quijote.
Selesai berbelanja saya dan beberapa teman mencari Gyukatsu Motomura yang terkenal itu untuk makan malam. Gyukatsu Motomura terdekat benar-benar ada di area Dotonborinya. Namun karena malam itu penuh ( Motomura hanya menyediakan space untuk 10 orang pengunjung di restorannya), kami di bawa oleh seorang mas-mas pelayan menuju motomura lain di seberang jalan. Dimana kami bisa langsung masuk dan makan.
Hari pertama di Osaka selesai di situ… dimana setelahnya kami kembali ke Hotel untuk beristirahat sebelum besoknya akan mengunjungi USJ Osaka.
bersambung…
