JJBTT Asiknya…(Part 4)

Kyoto experience…bagian membully istri sendiri

677d3d76-5f51-4927-a9ac-30301d4f2f6d

19 Januari 2020

Biasanya kami ber-8 beribadah bersama di hari Minggu, tapi kali ini kami ngetrip bareng. Setelah lelah perjalanan jauh dari Takayama ke Kyoto semalam sebelumnya dan istirahat yang cukup. Pagi-pagi kami bangun dengan tubuh yang segar dan segera melanjutkan perjalanan kami di Kyoto.

Aturan pertama untuk jalan-jalan di Kyoto adalah pergi sepagi mungkin ke tempat-tempat wisata mainstream. Karena semakin siang kita pergi ke tempat wisata mainstream, para wisatawan sudah memenuhi tempat-tempat tersebut, dan kita akan sulit menikmati tempat tersebut.

Pagi itu kami memulai hari di pukul 7 pagi dan tujuan pertama kami adalah Fushimi Inari Taisha. Sebuah kuil Budha di kaki bukit Inari. Yang membuat Fushimi Inari Taisha sangat tersohor adalah banyaknya Tori Gate yang terbentang dari kaki bukit hingga puncak bukit Inari. Fushimi Inari Mountain juga terkenal sebagai Fox Tample dengan Fox statue yang berdiri gagah di muka kuil.

Fushimi Inari sendiri ada tepat didepan Inari JR Station, jadi keluar stasiun Inari kita tinggal menyebrang jalan masuk ke area Fushimi Inari Taisha. Langsung lurus menuju kaki bukit inari, dan kita akan menemukan deretan rapi tori gate berwarna orange. Berbaris rapi menuju puncak bukit Inari. Tori Gate berwarna orange ini merupakan sumbangan orang pribadi dan perusahaan untuk membangun Fushimi Inari, tidak heran apabila pada tiap tiang tori gate ini terdapat nama perusahaan yang memberikan sumbangan untuk membangun tori gate tersebut. Deretan tori gate ini merupakan destinasi utama para turis yang mengunjungi Fushimi Inari Taisha.

WhatsApp Image 2020-06-20 at 06.48.55

(Berfoto di deretan rapi Tori Gate di Fushimi Inari adalah keharusan buat turis)

Setidaknya itu yang kami lakukan, setelah melewati deretan Tori Gate pertama kami segera kembali ke kaki bukit untuk makan pagi. Ya, makan pagi ! Fushimi Inari juga terkenal dengan aneka ragam jajanan khas Kansai di area bazar makanannya. Buat mereka yang sudah dengan susah payah naik ke puncak bukit Inari, area bazar ini menjadi penyelamat perut dari kelaparan. Kalau kami makan bukan karena kelaparan karena sudah naik turun bukit, kami makan karena belum sarapan.

Kontrol diri sangat penting untuk kita lakukan ketika berada di area bazar makanan Fushimi Inari. Makanan yang dibuat rata-rata fresh dan menarik sekali. Apalagi asap dari pembuatan bbq wagyu steik dan crab stick steam yang membuat hidung tergoda untuk mendekat dan belanja. Rata-rata makanan di bazar makanan Fushimi Inari dijual dengan harga 500 Yen atau Rp 75.000,00, cukup mahal memang, hanya saja kapan lagi bisa menikmati dinginnya Minggu pagi dengan sarapan senikmat ini.

WhatsApp Image 2020-06-20 at 11.21.24

(Wagyu Steak yang mantap)

WhatsApp Image 2020-06-20 at 06.48.55-2

(Wagyu x Takoyaki)

Setidaknya saya dan istri saya menikmati Wagyu Steak yang dibuat seperti sate dan Takoyaki yang sangat terkenal di daerah Kansai. Wagyu Steaknya bener-bener lembut dan lumer di mulut, dibuatnya juga dengan cara yang sederhana, dipanggang dengan butter dan garam saja. Takoyakinya juga unik, berbeda dengan takoyaki di Indonesia yang bagian luar dan dalam nya sama-sama keras. Takoyaki kansai ini firm di luar tetapi lembek di dalam. Entah bagaimana cara buatnya, isiannya juga enggak pelit, potongan daging cuminya besar-besar dan tebal. Kenyang dah.

Sebetulnya kami juga membeli crab stick steam, daging kepiting olahan yang dibuat dengan cara dikukus lalu di bakar. Hanya saja crab stick ini hanya sempat di foto dan digigit sedikit, sebelum kemudian terjatuh . Hmmmm…. Ayu…Ayu…. heran itu tangan.

WhatsApp Image 2020-06-20 at 11.21.24-2

(crab stick nya kakak….boleh kakak)

WhatsApp Image 2020-06-20 at 11.21.24-3

(segera setelah foto ini diambil, ada teriakan kecil dan ternyata crab sticknya jatuh…)

Semakin lama di Fushimi Inari mungkin semakin bete juga saya sama crab stick jatuh itu. Berangkatlah kami menuju destinasi ke-2 pada hari itu yaitu Arashiyama Bamboo Forrest.  Daerah ini terkenal dengan hamparan hutan bambu yang instagramable juga cafe-cafe karakter yang lucu. Tiba di daerah arashiyama , waktu sudah menunjukan pukul 10.00 pagi. Namun untuk area favorit di Kyoto jam itu sudah terlalu siang, karena turis sudah banyak yang berkeliaran di daerah ini. Rame banget sumpah. Menurut saran Youtube sebenarnya Fushimi Inari dan Arashiyama harusnya dikunjungi di hari yang berbeda, dengan maksud keduanya bisa dikunjungi pagi hari. Tapi karena keesokan harinya kami sudah harus berangkat ke Osaka, kedua objek wisata ini kami satukan di satu hari.

WhatsApp Image 2020-06-20 at 06.48.56-2

(Kalau sepi Arashiyama ini pasti cakep banget)

Arashiyama Bamboo Forrest adalah sehamparan hutan bambu yang sangat luas. Atraksi utama memang hanya jalanan yang kanan-kirinya terhampar bambu yang tumbuh secara lebat, tetapi untuk turis yang sudah lansia disediakan becak yang ditarik oleh orang atau jinrikisha ( kendaraan yang ditarik dengan tenaga manusia). Seperti objek wisata lainnya Arashiyama juga menawarkan berbagaimacam kuliner yang mungkin menarik sebagian orang untuk mampir. Namun yang terkenal adalah berbagaimacam cafe karakter yang unik dan lucu. Saya menemukan setidaknya 3 cafe dengan nuansa snoopy, miffy, dan satu karakter kartun yang saya tidak tahu namanya.

WhatsApp Image 2020-06-20 at 06.48.57

(Ayu x Arashiyama Snoopy Chocolat)

WhatsApp Image 2020-06-15 at 21.02.42

(Ayu x Miffy Sakura Kitchen and Bakery)

Fun Fact tentang Miffy : Kalau dilihat dari part-part sebelumnya mungkin sempat di baca saya menulis soal miffy. Ayu istri saya adalah seorang Miffy fan. Buat yang belum tahu tentang Miffy, ini sedikit sejarahnya. Miffy lahir di Belanda dengan nama Nijntje di kreasikan oleh seorang seniman bernama Dick Bruna pada tahun 1955 sebagai dongeng sebelum tidur untuk anaknya. Miffy digambarkan sebagai seekor kelinci betina yang lucu. Dalam perkembangannya Miffy menjadi sangat terkenal di Belanda , sampai didirikannya Little Nijntje Square di Belanda. Di Jepang sendiri banyak fan dari Miffy sehingga di Arashiyama terdapat Miffy Sakura Kitchen dan Bakery yang menjual kue dan pernak-pernik Miffy. Di Tokyo pun terdapat Asakusa Miffy flower shop yang sayang sekali kami tidak sempat kunjungi. Mungkin untuk semacam hutang buat kunjungan berikutnya.

Sebagai fan Miffy garis keras , tentunya istri saya kalap belanja di Miffy Sakura Kitchen dan Bakery. Dari barang-barang esensi sampai roti yang kerasnya seperti papan dan tidak bisa di makan.

WhatsApp Image 2020-06-20 at 11.44.52

(walau sayang di makan…masih okelah… es krim Miffy)

WhatsApp Image 2020-06-20 at 11.44.51

(MIffy Bun atau Bakpau)

WhatsApp Image 2020-06-20 at 11.44.52-2

(ini cute, cuman sekeras papan)

WhatsApp Image 2020-06-20 at 11.44.53

(cobaan duniawi Ayu Sari)

WhatsApp Image 2020-06-20 at 11.44.54-2

(Yang dibawa pulang….duh Gustiii)

WhatsApp Image 2020-06-20 at 11.44.54

(Arashiyama Miffy Sakura Kitchen and bakery)

Buat penikmat budaya kawai Miffy boleh sih untuk diulik. Buat saya dan teman-teman yang lain lebih memilih untuk ngopi di Arabica coffe tepat didepan Katsura river . Mantap sekali, Minggu siang ngopi di depan sungai yang sangat tenang. Sambil menikmati pemandangan anak-anak ekskul karate Jepang yang uji nyali berendam di dinginnya air sungai.

WhatsApp Image 2020-06-20 at 11.21.25

(dicikopian heula bray)

Setelah selesai urusan di Arashiyama (belanja.red) , kami beranjak dari area Arashiyama menuju Nishiki Market untuk makan siang. Kami menuju area Nishiki Market menggunakan randen, kereta yang hanya terdiri dari 1 gerbong saja. Unik sekali karena randen ini dapat menurunkan penumpang di randen stop yang berbeda dari stasiun pada umumnya.

WhatsApp Image 2020-06-20 at 12.21.23

(ilustrasi randen)

Karena sudah cukup boros untuk makan pagi dan cemilan, siang itu kami mencoba gyudon saudara dari Yoshinoya dan Sukiya. Namanya Matsuya. Letak Matsuya ini ada di jajaran Ichiran yang semalam sebelumnya kami coba. Berbeda dengan Yoshinoya dan Sukiya. Matsuya lebih menawarkan makanan set, lengkap dengan salad, tidak hanya miso soup saja. Matsuya menawarkan menu set steak babi yang di masak tipis yang rasanya sungguh luar biasa. Walaupun tipis , dagingnya terasa tender dan sangat mengenyangkan.

WhatsApp Image 2020-06-20 at 12.28.31

(Gak sempat foto, namun penampakannya kira-kira begini)

Sore itu , setelah makan siang yang kesorean kami bergegas menuju Shinenzaka. Shinenzaka adalah sebuah jalan tradisional yang membentang antara Kyomizu dera ,Ninenzaka , dan Kodaiji Temple dekat daerah gion yang terkenal dengan geisha nya itu. Shinenzaka terkenal dengan arsitektur asli Jepang yang dimodifikasi dengan tenan-tenan terkenal, salah satunya iyalah Starbucks yang dikemas dalam rumah tradisional Jepang

WhatsApp Image 2020-06-20 at 11.21.25-2

(Pemandangan ikonik Shinenzaka di sore hari)

Starbucks Kyoto Ninenzaka Yasaka Chaya, itu namanya buat teman-teman yang tertarik mencari lewat google maps. Apabila kita awam memasuki daerah ini, kita tidak akan menyangka bahwa bangunan tua di Shinenzaka ini salahsatunya ialah Starbucks, warung kopi yang sangat terkenal itu. Sampai samar-samar terlihat logo Starbucks yang terpahat di kayu, digantung di lantai 2 warung.

WhatsApp Image 2020-06-20 at 11.21.25-3

(Starbucks Kyoto Ninenzaka Yasaka Chaya)

Menu di Starbucks Jepang memang berbeda dari Starbucks Indonesia. Perbedaan ini sendiri dikarenakan adanya penambahan rasa-rasa yang khas Jepang, yang ehm absurd. Seperti Caffe Latte Sakura, kira-kira rasanya seperti apa ya? Selain Starbucks Shinenzaka juga memiliki toko salah satu karakter dari studio Ghibli yaitu Totoro. Beruntung hari itu sudah mengeluarkan banyak uang sehingga Ayu Sari istri saya tidak berani berbelanja di Totoro Shop.

WhatsApp Image 2020-06-20 at 11.21.25-4

(Wajah ingin belanja tapi malu sama tas belanjaan)

Setelah puas berada di Shinenzaka, kami pun terus melanjutkan perjalanan kami dengan berjalan kaki menuju Gion melewati Yasaka Shrine. Tujuan untuk mengunjungi Gion tentu saja untuk melihat daerah yang terkenal dengan para Geisha-nya ini, wanita penghibur ( seperti penyanyi tradisional ya bukan PSK) yang sering kali terlihat didaerah Gion ini. Namun karena sudah terlalu sore , nampaknya para Geisha sudah berada di tempat makan yang berjejer di sepanjang Gion untuk menemani tamu mereka makan malam.

Hari itu berakhir di Gion. Karena setelahnya grup kami terpisah menjadi 2 grup kecil dimana 1 grup pergi ke izakaya yang kebetulan kami lihat ketika kami tiba di Kyoto dan 1 grup lagi menuju Nishiki market untuk membeli sushi dan makan di tempat.

Kyoto merupakan kota besar yang masih Jepang banget. Karena apabila kita menyebut kota besar di Jepang, pandangan kita pasti akan langsung tertuju pada trio kota yang merupakan objek wisata utama di Jepang Tokyo, Kyoto,Osaka. Namun berbeda dengan 2 kota lainnya, Kyoto terasa masih alami dan tradisional. Orang-orangnya tidak se hectic Tokyo dan Osaka dan juga predesteriannya masih banyak menampilkan rumah-rumah kuno ala Jepang.

Menarik untuk diulang pengalamannya….

Bersambung…

 

 

 

Leave a comment