JJBTT Asiknya…(Part 2)

Lanjutan part 1…

Sampai di hotel pukul 12 malam dengan dengkul yang sudah mati rasa, kami-pun bergegas untuk mempersiapkan barang-barang keperluan besok dan beristirahat. Hotel kami di Asakusa Agora Place, walaupun tidak se-unik Henn-na Hotel, tetap memberikan pengalaman baru menginap di Hotel Jepang. Kamar nya terhitung luas untuk hotel yang tidak terlalu besar, kamar mandinya bersih, dan yang paling ajaib kami mendapatkan 3 kasur single yang besar-besar. Kaget campur tertawa menjadi satu malam itu. Setelah bersih-bersih dan semua packing, kami pun tertidur.

17 Januari 2020 ( Takayama Experience)

Besok harinya tepat pukul 5 pagi, saya terbangun dan bergegas untuk mempersiapkan barang-barang kami. Karena sudah mengatur schedule dengan teman-teman yang lain untuk berkumpul dan berangkat pukul 6.30, dengan tujuan menghindari Rush Hour di kereta. Berangkat tepat waktu dari Asakusa dan benar saja, ketika kami berganti line di Stasiun Kanda, kekacauan terjadi. Kereta yang kami naiki sangat penuh sesak, membuat kami ber-6 terpisah dengan 2 teman lain yang ada di sisi belakang kereta. Perjalanan dari Stasiun Kanda menuju Stasiun Shinjuku memang hanya 13 menit dan melewati 3 stasiun. Tetapi karena penuhnya kereta yang kami naiki, kami tidak bisa berkomunikasi dengan 2 teman kami yang terpisah dimana kami harus turun. Alhasil ketika kami ber-6 turun di Stasiun Shinjuku, ke-2 teman kami itu tidak turun dan terbawa kereta yang melaju. Panik? sangat! karena sekali lagi Jepang itu presisi, bus yang akan kami naiki memang baru berangkat pada pkl 08.15 , tetapi bukankah lebih baik sudah tiba jauh sebelum waktu keberangkatan. Kami pun berusaha menelepon ke-2 teman kami itu untuk segera berhenti di stasiun selanjutnya, dan kembali ke Stasiun Shinjuku dengan kereta yang berlawanan arah. Tidak sampai 10 menit mereka-pun tiba.

Drama selanjutnya tentu saja mencari gate yang benar untuk keluar tepat di depan terminal bus yang kemarin malam sudah kami cari. Dan lagi-lagi kami tersesat. Segera kami berjalan keluar stasiun dengan harapan bisa melihat bentuk fisik terminal bus-nya. Pilihan yang buruk. Pagi itu Jepang menunjukan temperatur 1 derajat dan itu dingin banget. Mencari jalan yang benar, sambil kedinginan itu sesuatu banget. Walau sudah memakai termal pants, udara dinginnya masih menusuk. Kurang lebih 20 menit mencari jalan untuk sampai ke Terminal Bus Shinjuku, kami pun sampai. Masih ada waktu setengah jam sampai waktu keberangkatan tiba, saya dan teman-teman pun mencari toilet untuk siap-siap aja tidak ada toilet di bus, karena ini pengalaman pertama kami naik bus di Jepang. Kami berangkat tepat pukul 08.15 menuju Takayama, akses utama menuju Shirakawa Go, yang menjadi alasan saya ke Jepang kali ini. Kami berangkat dengan Bus Nohi, salah satu perusahaan bus antar kota di Jepang. Bus Nohi ini trademarknya ialah perpaduan warna putih dan hijau, interiornya tidak jauh berbeda dengan bus-bus di Indonesia, dan tentu ada toiletnya.

WhatsApp Image 2020-06-15 at 09.20.24

(beruntung pagi itu saya bisa mendapatkan kursi no 1)

Yang membedakan mungkin dari efisiensi staff yang bertugas. Kalau perusahaan bus di Indonesia menggunakan banyak tenaga manusia, seperti contoh, bus pengangkut menuju Bandara Soekarno Hatta dari Bandung selalu memiliki 2-3 staff, seorang supir dan 1-2 orang kernet yang mencatat penumpang dan menjadi teman ‘ngobrol’ si supir. Padahal waktu perjalanan tidak sampai 4 jam . Perjalanan kami menuju Takayama memakan waktu 6 jam , dan staff yang bertugas di bus hanya 1 orang. Pekerjaannya mencatat penumpang yang masuk, cek tiket penumpang, cek point di setiap perhentian, dan mengemudikan busnya. Ya, si sopir bus mengerjakan semua pekerjaan sendirian, luar biasa.

Perjalanan dari Tokyo menuju Takayama memakan waktu 6 jam, mungkin 6 jam tersingkat dalam hidup saya. Perjalanan ini menyuguhkan pemandangan-pemandangan indah yang memanjakan mata, juga memberikan kesempatan penumpang untuk beristirahat sebanyak 4 kali di check point yang sudah disiapkan. Check point ini bukan tempat peristirahatan seadanya, tetapi menurut kacamata awam seperti saya sudah memberikan kualitas resort dengan toilet bersih dan tempat makan yang asik.

WhatsApp Image 2020-06-15 at 09.20.24-2

(pemandangan yang bisa di capture dari dalam bus)

WhatsApp Image 2020-06-15 at 09.20.25

(ini check point loh, mungkin kalau ga sebersih dan sekece ini, malas juga berlama-lama di luar bus)

WhatsApp Image 2020-06-15 at 09.20.25-3

(Check Point terakhir sebelum sampai di Takayama)

Dan bagian terpenting yang membuat perjalanan kami terasa singkat adalah jalan bebas hambatan yang menembus gunung. Apabila kita biasa naik bus atau mobil di Indonesia, kenapa perjalanan bisa menjadi lama? karena aksesnya yang tidak bebas hambatan. Dalam artian apabila ada gunung, kita harus naik gunung dan kemudian turun gunung, untuk sampai di kota di balik gunung. Tapi hal menarik yang saya lihat di dalam perjalanan ini adalah jalan bebas hambatan yang sebenarnya. Alih-alih naik dan turun gunung, jalanan di Jepang menembus gunung, dan membuat perjalanan terasa lebih singkat.

WhatsApp Image 2020-06-15 at 09.20.25-2

(biar cepet, jebol aja gunungnya)

Saya antusias ketika mendengar Kereta Api Cepat Bandung-Jakarta menyertakan investor dari Jepang. Dan progresnya sudah mulai ada gunung yang di jebol di Padalarang.

Sekitar pukul 15.00 kami tiba di Takayama. Turun dari bus kami hanya perlu menyebrang jalan untuk sampai di hotel kami, Country Hotel Takayama. Country Hotel ini merupakan salah satu hotel favorit di Takayama, walaupun hotelnya merupakan hotel tua, tapi fasilitas yang di tawarkan cukup lengkap. Dengan akses menuju terminal bus dan stasiun yang hanya tinggal menyebrang jalan. Di bagian bawah dari hotel ini terdapat Family Mart yang memudahkan kami apabila kelaparan tengah malam. Kamar hotelnya sendiri seperti kebanyakan hotel bisnis di Jepang yang kecil banget. Karena memang di fungsikan hanya untuk tidur saja. Kekurangannya mungkin hanya heater yang tidak bisa di kecilkan. Buat saya yang biasa tidur dingin, saya perlu membuka jendela sedikit supaya tidak kepanasan. Buka jendela kamar di musim dingin ? mantap!

WhatsApp Image 2020-06-15 at 09.20.25-4

(masuk pintu, ada toilet di sebelah kanan, dan sisanya kasur)

Tapi overall Country Hotel adalah penawaran hotel terbaik di Takayama. Dengan harga yang relatif murah ( tidak sampai 600 ribu pada saat itu), akses yang di tawarkan juga menarik. Segera setelah beristirahat singkat, kami menuju Takayama Old Town yang menawarkan suasana Takayama masa lampau. Kenapa harus bergegas? karena Takayama Old Town tutup pada pukul 5 sore. Jadi kami hanya punya sekitar 1,5 jam untuk explore.

WhatsApp Image 2020-06-15 at 10.06.32

(mejeng di Takayama Old Town)

Takayama Old Town adalah satu jalan yang tidak terlalu panjang, namun pada kiri-kanan jalan kita dapat menemukan toko-toko yang menjual makanan khas Takayama yaitu sake dan makanan olahan hida beef dan juga oleh-oleh khas Takayama yaitu boneka Sarubobo, boneka ‘monyet’ tanpa wajah berwarna merah.

WhatsApp Image 2020-06-15 at 10.19.29

(Sarubobo ‘Monyet’ merah tanpa wajah di Hida prefecture)

Karena belum makan siang, kami sepakat mencari restoran lokal dl sebelum jalan-jalan di Takayama Old Town. Pilihan pun jatuh pada sebuah restoran tua yang dimiliki oleh ibu-ibu yang sedikit bawel dan anaknya. Restoran yang jujur saya lupa namanya ini menawarkan Ramen dengan sup yang tidak terlalu pekat, seperti mie biasa . Namun kami yang sempat skeptis dengan masakan si ibu, harus mengakui bahwa ramen yang sedang kami makan ini adalah ramen terenak selama di Jepang. Ichiran ? lewat! Kuahnya tidak pekat seperti kuah tonkotsu, hanya saja dengan mencicipinya kita bisa tau bahwa itu adalah kuah babi. Mie nya disajikan dengan porsi yang cukup mengenyangkan dan meninggalkan memory yang baik untuk diulang.

WhatsApp Image 2020-06-15 at 09.42.12

(nampaknya sih kurang menarik, rasanya…beuh)

Patokan warung mie ini adalah, menyusuri Takayama Old Town sampai ujung, belok kiri, sampai menemukan Family Mart di sebelah kanan jalan, warung si ibu ada di sebrangnya. Dinding warung dipenuhi tempelan dengan tulisan berbagai bahasa, yang singkatnya menuliskan tidak boleh share makanan, masuk harus makan ga boleh nemenin doang, foto-foto harus ijin dulu. Bawel kan?

Selesai makan dan foto-foto (yang tentunya ijin dulu sama si ibu) kami melanjutkan jalan -jalan kami di Takayama Old Town. Sebetulnya jalan-jalan di Takayama Old Town itu cuman 2 kegiatannya, yaitu foto-foto dan kuliner. Takayama yang berada di Gifu terkenal dengan Hida Beef nya. Olahan hida beef sendiri macam-macam, dari di buat sate, bakpau, sampai sushi. Kenapa Hida Beef begitu famous? karena konon sapi-sapi penghasil Hida Beef ini di ternak dan dibesarkan oleh kekayaan alam Gifu yang menjadikan sapi-sapi ini tumbuh dengan lemak tebal dan terbaik. Pernah mencoba daging yang meleleh di mulut? harus coba hida beef.

WhatsApp Image 2020-06-15 at 09.20.26-2

(bakpao isi Hida Beef)

WhatsApp Image 2020-06-15 at 09.20.26-3

(sushi Hida Beef)

WhatsApp Image 2020-06-15 at 09.20.26-4

(Sate Hida Beef)

Setelah Takayama Old Town tutup pada pukul 5 sore, kehidupan di Takayama juga seakan berhenti. Tidak ada toko atau restoran yang buka melebihi pukul 6 sore. Semuanya tutup, Takayama berubah menjadi kota yang sangat hening, dihiasi lampu-lampu gedung yang temaram. Aktifitas manusia juga sangat terbatas di kota ini, tidak ada kongkow-kongkow seperti orang Tokyo kebanyakan, seakan mereka pulang langsung ke rumah.

WhatsApp Image 2020-06-15 at 10.58.37

(Restoran yang tersisa pada pukul 6 sore di Takayama)

WhatsApp Image 2020-06-15 at 10.58.37-2

(Sisa-sisa Iluminasi Natal di Takayama)

Buat sebagian orang mungkin bertanya, ngapain harus spend time di Takayama? Bukannya untuk ke Shirakawa Go bisa melalui Kanazawa yang lebih ramai? Harusnya selama di Jepang dinikmati sampai malam. Ngapain di hotel aja?

Buat saya sih Takayama spesial, di Jepang yang segitu modern nya masih bisa ada kota yang sangat tenang. Makanan nya enak, kulturnya terasa sangat kental . Takayama cocok menjadi tempat pelarian dari kebisingan kota-kota besar di Jepang. Saya sepakat dengan istri saya, apabila kedepan kita pergi ke Jepang lagi. Takayama perlu dikunjungi lagi.

Hari itu di Takayama , hari berakhir lebih cepat. Jam 9 malam lampu kamar sudah mulai di matikan, kami pun tertidur untuk petualangan selanjutnya.

Bersambung…

 

 

Leave a comment