JJBTT Asiknya… (part 1 )

Pernahkah teman-teman memposisikan diri teman-teman menjadi tourguide buat sekelompok orang atau minimal keluarga ?

Kalau belum pernah, coba deh, karena akan membawa kita menuju level selanjutnya dalam travelling kita.

Saya melakukannya pada bulan January 2020  atau winter kemarin. Sebenarnya saya merencanakan trip Jepang kali ini hanya untuk saya dan Istri saya. Melalui percakapan ringan, kami bercerita jikalau kami akan pergi traveling lagi. Tidak disangka 6 teman kami, semua Suami-isteri, tertarik untuk ikut dalam traveling kami kali ini. Dengan satu syarat mereka ikut dengan itinerary kami, rencana-pun dibuat.

WhatsApp Image 2020-06-13 at 08.47.11

(Dalam foto yang uwu pasti aja ada korban…yang motret ga kepotret)

Karena kami sudah prepare tiket pesawat, maka ke-6 teman kami ini terpaksa mencari tiket pesawat sendiri. Alhasil 4 dari mereka harus naik airlines yang berbeda dengan waktu keberangkatan 1 hari lebih dulu dari saya dan Istri. Sedangkan sepasang teman kami yang lain, walaupun keberangkatan sama dengan saya dan Istri, mereka tetap peri dengan airlines yang berbeda.

Saya dan Istri menggunakan Singapore Airlines (SQ) dengan multi city trip, Jadi kami berangkat via Jakarta menuju Tokyo Haneda, dan pulang dari Kansai KIX kembali menuju Jakarta. Empat teman saya menggunakan Cathay Pacific Airlines dengan trip yang sama tetapi berangkat sehari sebelum kami, sedangkan sepasang lainnya menggunakan Cathay Pacific Airlines yang waktu keberangkatannya kurang lebih sama dengan saya.

Keberangkatan…

Drama sebenarnya sudah dimulai sehari sebelum saya berangkat. Teman-teman yang sudah sampai di Tokyo berkendala dengan SIM Card yang tidak terkoneksi dengan HP mereka. Dari empat orang yang sudah tiba, syukurlah ada seorang teman yang bisa mengkoneksikan SIM Card nya (mungkin karena Handphone baru…hahahahah….). Beberapa kali saya menghubungi Tour penyedia SIM Card yang kami beli dan mereka menyatakan bahwa SIM Card yang dikirimkan dalam keadaan normal, dan menyarankan kami untuk mengubah settingan handphone kami. Sebagai teman yang baik, jujur saya agak deg-deg ser mendengar kendala itu, karena namanya juga di Jepang, koneksi pastinya nomor satu, agar tidak tersesat.

Sementara itu, saya dan sepasang teman lainnya berangkat menuju Jakarta untuk menginap semalam di sana agar keberangkatan pagi kami tidak tergesa-gesa. Menginap di Pop Hotel Bandara Soekarno Hatta yang memiliki akses cepat ke bandara dengan disediakan shuttle bus adalah pilihan kami. Dengan harga yang relatif murah bisa menjadi pilihan teman-teman semua untuk penerbangan pagi. Yang terpenting setelah masuk kamar paradigma saya akan Pop Hotel karena kekurang bersihannya terbantahkan seketika.

Tanggal 15 Januari pagi, saat yang kami tunggu akhirnya tiba juga. Pukul 05.00 Shuttle yang membawa kami sudah berangkat menuju terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Hanya memerlukan waktu sekitar 10 menit untuk tiba di terminal 3 , perjalanan yang cukup cepat dan nyaman. Setelah check in dan sarapan , saya istri dan sepasang teman yang berangkat bersama kami berpisah. Saya menuju gate dari SQ sementara teman kami menuju gate Cathay Pacific. Sejujurnya keberangkatan kali ini saya sangat bersemangat, selain karena ini merupakan kali pertama saya berpergian bersama dengan teman-teman, ini juga kali pertama saya pergi dengan full service flight. Karena kalau diingat keberangkatan pertama saya ke Jepang menggunakan LCC.WhatsApp Image 2020-06-13 at 10.03.57

(wajah ceria mau berlibur)

WhatsApp Image 2020-06-13 at 10.03.57-2

(diluar hujan tapi tetep eksited… photo from @stefanustephen instagram)

Terbang dengan Full Service Flight emang berbeda ya, tidak ada delay. Waktunya berangkat ya berangkat, sehingga waktu penerbangan yang tertera di boarding pass kami sangat presisi. Dari waktu tiba di Changi Singapore untuk transit sampai waktu tiba di Haneda di malam harinya. Pengalaman pertama untuk FSF, sangat mengesankan, karena selain pesawat nya bagus, makanan yang disediakan oleh SQ juga sangat menyenangkan. Sedikit tips dari kami pemula pengguna FSF, untuk penerbangan jauh, mungkin kursi paling belakang bisa dijadikan pilihan baik. Terkadang orang malas untuk duduk di kursi-kursi ini karena kalau kena turbulance sangat terasa. Tapi kalau dipikir-pikir, kursi-kursi ini terbaik, apalagi untuk couple. Kita tidak perlu merepotkan orang lain apabila mau ke kamar kecil, tidak usah terganggu dengan orang lain yang mau ke kamar kecil, dan yang paling penting wajah jelek kita ketika tertidur tidak menjadi konsumsi publik karena yang ada di sebelah kita hanyalah pasangan kita.

Bagaimana untuk pusing-pusing karena getaran? Amer adalah jawabannya. FSF biasanya menawarkan alkohol untuk minuman pilihan kita. Pada saat penerbangan Singapore-Haneda yang memakan waktu 7 jam, saya memilih Red Wine untuk minuman pilihan . Alhasil saya yang cupu ini langsung mengantuk setelah meminum 1 gelas red wine dan tertidur. Terbangun hanya ketika mbak SQ menawarkan makan saja. Menyenangkan sekali bukan. Tidur di Singapore bangun di Jepang hmmm….

WhatsApp Image 2020-06-13 at 10.20.09

(flight 8,5 jam…ndak capek karena kami moyoy all the way)

Pukul 21.40 waktu Jepang atau setelah 8,5 jam penerbangan belum termasuk transit, kami tiba di bandara Haneda Tokyo. Bandara Haneda malam itu sangat bersahabat, dari imigrasi sampai bagage claim berlangsung sangat cepat. Segera setelah masalah administrasi diselesaikan, saya berjumpa sepasang teman yang tiba 20 menit lebih awal. Sementara kami menunggu free shuttle dari hotel kami menginap, saya membeli pasmo atau e-money yang dapat digunakan untuk trasportasi dan membeli makanan di mesin dan minimarket. Sebenarnya pilihan emoney di Tokyo ada 2 selain pasmo ada juga suica yang memiliki fungsi kurang lebih sama.

WhatsApp Image 2020-06-13 at 10.31.08(ilustrasi pasmo dan suica)

Fun Fact tentang pasmo dan suica, ketika membeli kartu-kartu ini sebenarnya ada sebagian uang yang menjadi deposit di dalam kartu itu sendiri, uang-uang deposit ini dapat dikembalikan apabila kita mengembalikan kartu-kartu tersebut di kota dimana kita membeli kartunya. Misalnya suica dan pasmo merupakan kartu keluaran Tokyo yang bisa digunakan diseluruh Jepang tetapi hanya bisa di refund di Tokyo. Karena setiap region memiliki kartu-nya masing-masing. Singkatnya bisa dipakai dimana aja, cuman kalau mau refund ya di kota dimana kita beli. Saya sih tidak refund, karena selain pulang melalui region yang berbeda, kartu ini masih bisa dipakai sampai 10 tahun mendatang, dan juga bagus buat oleh-oleh.

Menunggu sekitar 30 menit, shuttle bus dari hotel tiba, bukan karena lama,tapi karena mereka presisi jadwal. Malam pertama kami menginap di Henn-na Hotel (Weird Hotel.red) . Kenapa di sebut Weird Hotel ? karena pelayan di hotel ini digantikan dengan robot. Yess… robot . Untuk Henn-na Hotel Haneda mengusung tema Jurassic Park. Jadi lobby hotel disulap menyerupai taman jurrasic lengkap dengan dinosaurusnya menjadi petugas penerima tamu. Absurd abis.

WhatsApp Image 2020-06-13 at 10.20.09-2

(dino menyediakan jasa check in cepat)

Kalau sudah menyerah dengan dino-dino ini kita bisa memanggil mas-mas hotelnya untuk membantu check in.

Segera setalah check in dan memasukan barang ke kamar, kami berempat keluar hotel untuk mencari makan malam. Udara Tokyo yang 0 derajat malam itu membuat perut kami semakin lapar. Pilihan untuk makan di pukul 11.30 malam itu hanyalah tinggal membeli makanan di Family Mart atau Sukiya (Restoran gyudon seperti Yoshinoya, Matsuya dll) yang cukup murah. Akhirnya kami memilih Sukiya, karena lebih hangat dan ingin mencoba yang baru.

Proses pemesanan makanan di Sukiya menggunakan mesin, cukup mudah, tinggal mencari makanan yang sesuai dengan keinginan kita dengan harga yang cocok, tekan tombolnya, maka tiket otomatis keluar. Tiket ini yang kemudian kita bawa ke mas-masnya untuk disiapkan.

WhatsApp Image 2020-06-13 at 10.44.34

(voila….)

Untuk makanannya sendiri pas dengan lidah orang indonesia. Makan di Jepang itu yang jelas kita irit minum, karena minuman ( air putih dan ocha) disediakan free alias gratis tis tis tis…..

WhatsApp Image 2020-06-13 at 10.20.09-3

(Hungry but Happy)

Setelah membeli beberapa makanan ringan di Family Mart kami kembali ke Hotel dan beristirahat. Besoknya kami harus mengejar waktu, agar tidak terjebak di padatnya kereta Tokyo di pagi hari.

Day 1 (16 Januari 2020)

Explore Tokyo

Pagi itu kami bangun pagi-pagi sekali untuk mengejar kereta yang akan membawa kami ke daerah Asakusa, daerah dimana teman-teman yang sudah tiba lebih dahulu menginap. Perjalanan kereta dari haneda ke asakusa memakan waktu kira-kira 30 menit dan dilanjutkan dengan jalan kaki selama 10 menit. Hotel yang kami inapi di Asakusa bernama Agora Palace Asakusa, berbeda dengan Henn-na Hotel. Hotel di Asakusa normal dengan manusia sebagai front officernya.

WhatsApp Image 2020-06-13 at 11.04.39

(Sebelum chaos dengan para pegawai yang berangkat kerja)

Saran singkat, pilihlah hotel yang dekat dengan akses kereta, jadi kalau pidah hotel atau kota tidak perlu menggeret koper besar jauh-jauh. Lalu berangkatlah pagi-pagi untuk menghindari para pegawai yang berangkat kerja. Kalau pkl 07.30 belum berangkat, sekalian siang aja, setelah para pegawai itu bekerja.

WhatsApp Image 2020-06-13 at 11.04.16

(gak mungkin banget bawa koper-koper ini jauh-jauh….hotel yang dekat dengan stasiun solusinya)

Setiba di Asakusa, kami langsung check in ,menitip barang , dan kemudian mencari sarapan. Karena kami sama sekali tidak memesan makanan dari hotel selama perjalanan ini. Alternatif makan pagi terbaik di Jepang adalah minimarket seperti Seven eleven, Family Mart, dan Lawson. Selain menyediakan makanan yang fresh dan murah, mini market ini menyediakan tempat untuk makan di tempat. Mungkin seperti AlfaMart Plus di Indonesia. Buat teman-teman yang datang ke Jepang ketika musim dingin, kalian harus mencoba Oden. Oden adalah sejenis sup yang isinya dapat dipilih sesuai selera, seperti telur, tahu, lobak, Chikuwa, dan masih banyak lagi. Menurut pengalaman saya oden Seven Eleven lebih enak dari pada oden Family Mart dan Lawson.

WhatsApp Image 2020-06-05 at 21.52.36

(Set populer Oden dengan isi tahu,lobak,chikuwa,dan telur seharga 320 Yen)

Makan oden dan mie instan yang hangat di tengah cuaca dingin Tokyo pagi itu…oishii…

Segera setelah sarapan , kami berjumpa teman-teman yang lain untuk segera menuju destinasi pertama Sensoji Tample Asakusa melalui Sumida river. Asyiknya bepergian dengan teman-teman ialah banyaknya waktu yang digunakan untuk ngobrol dan berfoto-foto. Jarak antara Agora Place dengan Sensoji yang hanya 10 menit jalan kaki, berubah menjadi 1 jam karena banyaknya tempat asik untuk diabadikan.

WhatsApp Image 2020-06-13 at 11.32.19

(Spot wajib super lengkap, Sumida River, Asahi Beer Building, Tokyo Sky Tree dalam 1 frame)

Sensoji Tample sendiri adalah salah satu Kuil Budha terbesar di Tokyo, terkenal karena keeksentrikannya dengan memiliki lampion-lampion besar berwarna merah berjumlah 3 buah ( 1 di Kamiranimon Gate, 1 di Komagatado Gate, dan 1 di Aula Komagatado nya). Salah satu daya tarik dari Sensoji Tample selain lampion-lampion merah ini adalah Nakamise Dori, suatu jalan yang dipenuhi makanan dan oleh-oleh khas Jepang.

WhatsApp Image 2020-06-13 at 11.37.26

(foto Sensoji Tample di musim panas 2018)

Untuk rekomendasi snack enak di Sensoji Tample pastinya Rice Crackers yang dijual seharga 1000 Yen per 3 buah, cukup mahal, tapi dengan rasa yang enak dan sensasi rasa wasabi yang legit, membuat harga itu menjadi worthed untuk di coba. Jangan membeli rice crackers plastikan, karena rasanya biasa aja walau murah. Coba rice crackers yang dijual 1 an.

WhatsApp Image 2020-06-13 at 11.23.37

(wasabi rice crackers 3 biji 1000 yen)

Selesai foto-foto dan belanja makanan di Sensoji, kami bergegas berangkat ke destinasi selanjutnya Shibuya. Karena banyaknya berhenti untuk foto-foto tidak terasa waktu sudah menunjukan waktu pkl 11.00 waktu yang tepat untuk makan siang. Perjalanan Asakusa menuju Shibuya selama 10 menit dengan subway, karena kami sudah membeli free pass subway untuk 1 hari. Sesampainya di shibuya kami langsung menuju KindenMaru untuk menikmati Ramen pertama di Jepang. Berbeda dengan cara memesan di Sukiya, memesan ramen rata-rata dengan memasukan uang terlebih dahulu untuk mendapatkan tiketnya, jadi kita sudah tahu pasti apa yang akan dipesan supaya tidak terjadi antrian di belakang kita. Rata-rata harga ramen di Kindenmaru seharga 800 Yen, cukup mahal, tetapi dengan mengetahui reputasi KindenMaru sebagai kedai ramen terbaik di Shibuya, harga itu menjadi worthed. Apalagi porsi yang disajikan sangat banyak, mungkin 1,5 kali Ramen di Indonesia, harga itu menjadi worthed sekali. Ramen di KindenMaru Tonkotsu base atau berbasis kaldu babi, jadi tidak halal yah.

WhatsApp Image 2020-06-13 at 11.58.24

(cicik-cicik dihadapan saya menyerah dengan ramennya….)

Perut kenyang, hati senang, pengen pipis. Ditambah musim dingin membuat HIV (Hasrat Ingin Vivis ) menggebu-gebu, sayangnya cari toilet umum di jepang tuh susah banget. Ditambah orang-orangnya yang gak fasih Inggris, walaupun merekanya helpful, tetep aja arah yang di tunjukan jadi ga dimengerti. Saran saya kalau lagi pengen pipis, cari stasiun terdekat, masuk gate pasti ada toilet.

Sorenya rombongan dibagi menjadi 2 rombongan kecil. Rombongan pertama atau seniors pergi dengan misi mencari sepatu bola Mizuno dan diskonan tas Anelo. Rombongan kedua (rombongan saya) misinya kulineran, mencari pernak-pernik Miffy, dan ketemu teman lama di Shinjuku. Shibuya-Harajuku-Shinjuku merupakan satu line yang sangat panjang. Tetapi kalau teman-teman sedang buat itinerary untuk pergi ke Jepang dan pergi ke Tokyo, line ini harus di sekalikan karena menyambung dan banyak yang bisa dilihat di daerah-daerah ini.

Kalau Shibuya dikenal dengan Hachiko Statue dan Shibuya Crossing, Harajuku dikenal dengan Takeshita Dori yang dipenuhi kultur kawaii dan Omotesando sebuah jalan yang dipenuhi tempat perbelanjaan branded. Selain pusat perbelanjaan banyak kuliner enak di Harajuku, kalau teman-teman tahu Luke’s Lobster dan Merion Creepe, nah disini tempatnya. Takeshita Dori juga menyediakan toko-toko obat, makeup, dan elektronik murah, sahabat sobat PO dah.

Saya punya janji dengan Antonius Andy di Shinjuku malam itu, seorang teman lama yang bekerja sebagai Engineer di Toshiba Jepang. Kami janji untuk makan malam bersama dan mengajarkan saya cara naik bus, karena besoknya kami harus naik bus menuju Takayama.

Berbeda lagi dengan Shibuya dan Harajuku, Shinjuku lebih menawarkan hiburan malam untuk orang dewasa.

WhatsApp Image 2020-06-13 at 12.20.39

(Shinjuku di malam hari)

Berbeda juga dengan Shibuya dan Harajuku yang sangat bersih. Vibe di Shinjuku itu agak negative dengan banyaknya gelandangan di jalanan . Mungkin karena pusat hiburan juga, para gelandangan itu mengais rejeki di sana.

Setelah makan malam di sebuah restoran, kami beserta Andy pergi ke Shinjuku Station untuk diajarkan cara naik bus yang baik dan benar. Kenapa harus dengan baik dan benar? karena Jepang itu presisi, kita harus tau dengan pasti dari gate stasiun mana kita harus keluar untuk segera sampai di terminal bus, harus pergi ke peron berapa, dan bagaimana caranya. Itu kenapa harus belajar. Terlebih lagi kami menggunakan bus pagi, kalau tidak hati-hati bisa tertinggal. Cara terbaik belajar dari orang lokal disana (Andy.red)

WhatsApp Image 2020-06-13 at 12.20.39-2

(Learn from locals)

Malam itu diakhiri dengan drama, saya yang sangat pede menggunakan subway salah mengambil kereta dan menyebabkan kami memutari tokyo. Jarak shinjuku-Asakusa yang seharusnya hanya 30 menit menjadi 60 menit karena memutar lebih dahulu. Untung kejadiannya malem itu, gak kebayang kalo salah subway kejadian besokan paginya.

Dasar orang Indonesia, selalu aja untung selalu….

Bersambung ke part 2

 

Leave a comment