REVIEW #1 ULUWATU KECAK DANCE

Bali, semua orang kayaknya pernah mendengar nama tempat ini. Ada sebagian orang yang mungkin menjadikan Bali rumah ke 2 mereka, banyak orang yang hampir setiap bulan mampir di pulau ini, bahkan beberapa orang merasakan sah-sah saja tiap weekend berkunjung ke pulau Bali.

Bagi saya sendiri Bali adalah tempat yang spesial. Saya pertama kali menginjakan kaki di pulau Bali di tahun 1993, ketika papi-mami saya mengajak saya, adik, dan opa untuk berlibue bersama ke Bali dengan menggunakan bus. Lalu ada periode saya lama gak ke Bali, sampai akhirnya sekolah saya SMAK 1 BPK Penabur Bandung mengadakan studytour ke Bali pada tahun 2002. Tepat 1 bulan setelah kejadian bom Bali 1. Periode itu terulang kembali sampai tahun 2012 papi-mami mengajak saya ke Bali lagi untuk berlibur bersama,ber-3 saja, sekaligus liburan terakhir saya sama almarhum mami. Namun setelah tahun 2012 itu, setiap tahun saya ke Bali. Tahun 2013 saya ke Bali untuk honeymoon,2014 saya ke Bali untuk short vacation , 2015 saya ke Bali untuk mengajak kakak istri saya main ke sana, 2016 saya balik lagi ke Bali bersama aah mertua, dan 2017 saya pergi ke Bali karena mendapatkan nginap gratis di Padma Legian. Asoy emang.

Karena kadar seringnya saya ke Bali sampai seorang rekan di kantor bilang,”pen, garis pantai Endonesah itu 99093 km persegi. Ke Bali lagi,yang bener aja”. Btw dia sekarang yang ktagihan pergi ke Bali hehehehehehe. Kenapa sih saya suka ke Bali? Mungkin itu pertanyaan yang pas.Buat saya Bali itu has everything for everyone . Buat mereka yang suka culture, Bali gudangnya hal-hal tentang culture bisa didapat. Buat yang suka pemandangan, kalian harus coba jalan pagi di Tjempuhan Hill atau makan siang di atas sawah terasering has Bali. Buat yang suka pantai, pantai dreamland,pantai pecatu, sampai pantai padang-padang (surganya surfer dunia) menanti. Buat yang suka makan ,kayak saya. Naughty Nuris Ribs, Gusto Gelato, bagul pak malen, dan banyak lagi tenan makanan menanti anda. Bali has everything for everyone.

Tapi alasan utama saya ke Bali adalah pengaruh magis kulturnya. Saya tidak segan untuk mencari pura-pura, demi mendapatkan peace. Saya mencari palace, seperti Ubud Palace sampai Tampaksiring untuk mengagumi arsitekturnya, Saya mencari pusat kerajinan, karena istri saya hobby mengkoleksi barang-barang kerajinan. Saya mencari tari Bali untuk menyaksikan keelokan seni gerak mereka. Di Bali sendiri seperti kita tahu bersama, setidaknya ada 2 tari yang paling banyak di cari. Tari Barong, yang sempat saya saksikan di desa BatuBulan ketika saya masih SMA, dan juga tari kecak, yang akan banyak saya bahas sekarang.

( Hanuman the white monkey)

Banyak tempat yang menyajikan tari kecak. Tapi yang terkenal ialah Garuda Wishnu Kencana dan Pura luhur uluwatu , keduanya ada di Bali selatan. Apabila kita menyaksikan tari kecak di GWK, kita akan dimanjakan dengan pemandangan salah satu patung tertinggi di dunia. Sedangkan apabila kita menyaksikan di pura luhur uluwatu, kita akan dibawa naik level dalam menyaksikan sebuah kesenian.Kenapa saya sebut naik level? Akan kita bahas kemudian.

Sebenarnya apa sih tari kecak itu? Tari kecak adalah tarian sakral yang biasa di sebut tari cak atau tari api. Tarian ini tidak diiringi musik sebagai instrumen pendukungnya, tetapi mengandalkan bunyi-bunyian cak dari mulut kurang lebih 70 penari pria ini. Tari ini disebut sakral karena dalam beberapa bagian tarian ini akan menampilkan bagian dimana sang penari terbakar api, namun tubuhnya tidak apa-apa. Tari kecak juga disebut sebagai tarian shang-hyang karena sewaktu-waktu digunakan dalam acara-acara keagamaan.

( Upacara sebelum tarian di mulai)

Wayan Limbak adalah sosok yang memiliki peranan penting dalam memperkenalkan tari kecak kepada dunia. Ia bersama W.Spies pada tahun 1930 mempopulerkan tarian ini di manca negara. Nama kecak sendiri berasal dari suara para penari ketika menari, dimana mereka berteriak ,”cak…cak…cak”. Overal tarian ini menceritakan tentang Sri Rama yang menyelamatkan istrinya Dewi Shinta dari tangan raja jahat Rahwana, dengan bantuan seekor kera putih bernama Hanoman.

Tari Kecak Uluwatu

Adalah pementasan tari kecak yang diadakan oleh sekelompok perkumpulan tari di Desa Pecatu. Desa paling selatan di Bali ini merupakan desa dengan salah satu tempat wisata paling populer di Bali, Pura Uluwatu. Karena keindahan alamnya banyak investor yang tidak ragu untuk berinvestasi dalam bidang properti di desa ini. Bvlgari Hotel,Alila Hotel, merupakan sedikit dari banyak hotel yang memadati Uluwatu. Tari kecak uluwatu dipentaskan di sebuah panggung terbuka/ outdor yang berbentuk lingkaran tepat di sebelah Pura Uluwatu. Pemandangan tebing yang indah plus panorama matahari terbenam menjadikan tempat ini sangat terkenal di kalangan wisatawan domestik dan internasional. Ditambah dengan Pura Uluwatu yang merupakan tempat suci bagi mereka yang beragama Hindu, lengkap sudah daya tarik tarian ini. Stage tari ini di bangun untuk kapasitas 1400 orang dan siap memberikan kita pemandangan yang spektakuler, kita berada diatas tebing yang menjorok ke lautan.

(Landskap Uluwatu yang keren)

Namun kehati-hatian kita tetap harus di jaga, karena Uluwatu merupakan rumah bagi ratusan monyet jahil yang siap menyasar barang-barang pengunjung. Saya sempat bilang Pura Uluwatu memberikan kita pengalaman untuk naik level dalam menyaksikan seni tari. Hal ini karena pada saat tarian ini dilakukan, matahari akan kembali ke peraduannya. Kita akan melihat perubahan latar sang buana. Dari warna kuning keemasan, menjadi merah terang, lalu gelap gulita. Lalu bagian dari tari ini yang menggambarkan istana Rahwana yang dibakar oleh Hanoman. Namun untuk sebagian orang kesakralan tarian ini agak berkurang, tidak lain oleh bercandaan khas OVJ dari para pemainnya, lalu tingkah Hanoman yang terkadang tidak sopan kepada pengunjung pertunjukan.

(Background hitam saat fire dance)

I Love Uluwatu Kecak Dance. Saya pribadi sudah menyaksikan tari ini 2 kali, dan bagi saya pengalaman ke-3 akan selalu di tunggu. Buat yang belum pernah menonton, saya sarankan masukkan kedalam bucket itinerary kalian deh

Bandung, 8 Oktober 2018

Stephen Hartono

Leave a comment