
Itinerary ? Makanan apa pulak itu ? saudaraan sama es chendol kah? 🙂
Itinerary adalah sesuatu yang sering memecah pandangan traveler tentang penting atau tidaknya untuk dibuat. Ada sebagian traveler yang begitu mempunyai kepastian berangkat (read : beli tiket) langsung sibuk search-search di mbah google, nonton youtube untuk membuat itinerary. Sedangkan sebagian lagi menganggap liburan, ya liburan. Gak penting untuk membuat rules, jadwal, atau apapun. Liburan mah bebas.
Jadi penting gak sih buat itinerary?
Dalam tulisan ini penulis akan memberikan beberapa pandangan penulis mengenai itinerary ini.
Okey, start with me…Pentingkah itinerary buat saya?
Penting sekali jawabannya. Saya di besarkan di keluarga yang disiplin traveling untuk masalah kuantitas, setahun kami berwisata paling tidak 2 kali, tetapi secara kualitas traveling kami sekeluarga itu kurang menggigit. Banyak tempat-tempat bagus yang saya sadari kemudian tidak terkunjungi ketika saya dan keluarga berlibur jaman dahulu. Hal inilah yang kemudian membentuk diri saya menjadi orang yang perduli akan keteraturan saat liburan. Perencanaan untuk pergi traveling, ketibaan, waktu-waktu untuk mengunjungi tempat-tempat, perlu tidaknya mengunjungi tempat-tempat tertentu, harga makanan, how to get there, what to see, semua tertuang di itinerary yang saya buat. Ribet? jelas!! Tapi buat saya lebih baik “berakit-rakit kehulu bersenang-senang kemudian” Gak apa-apa ribet mempersiapkan untuk suatu perjalanan yang siapa tahu tidak akan terulang lagi.
Penting atau tidaknya suatu Itinerary akan saya break-down kedalam empat point besar ini.
Lets check it out!!
Traveler macam apa kamu ?
Penting untuk menyadari sebelumnya kita tuh masuk ke kategori traveler yang mana, dalam bahasa saya, saya membaginya menjadi 3 jenis traveler. Budget traveler,Mid traveler,High-End Traveler. Kadar keperluan itinerary bagi tiga jenis traveler ini pastinya berbeda karena kondisi-kondisi yang berbeda-beda.

(If We go as budget traveler,itinerary is a must)
Budget Traveler
Sering di salah artikan sebagai backpackers, Tidak semua budget traveler adalah backpackers dan tidak semua backpackers adalah budget traveler. Budget Traveler lebih kepada mereka yang travelling dengan budget terbatas, entah karena mereka-mereka ini masih kuliah atau awal-awal bekerja ( kita tidak akan membahas keluarga khadarsian atau anak-anak konglomerat di sini, horang kayah mah bebaz!!). Kekurangan mereka ini jelas di budget, yang kemudian akan merambat ke masalah lainnya yaitu waktu. Untuk mereka yang awal-awal bekerja kita anggap hanya memiliki cuti 12-14 hari setahun. Waktu akan menjadi musuh utama traveler jenis ini kemudian. Penyakit bernama waktu ini merembet (lagi) ke masalah selanjutnya yaitu tujuan yang mau di tuju di suatu daerah wisata. Bagi mereka yang punya waktu sedikit akan membuat tempat wisata yang akan dikunjungi juga menjadi lebih terbatas. Jadi traveler jenis ini punya 3 masalah utama dalam perjalanan mereka, biaya, waktu, dan tujuan. Apabila pertanyaannya pentingkah itinerary buat mereka? Perlu banget!! Traveler jenis ini perlu merancang travelingnya dengan detail agar mereka dapat solving 3 masalah utama itu. Dengan pembuatan itinerary mereka dapat mengukur kemampuan mereka, memaksimalkan waktu mereka, dan juga merekam memory sebanyak-banyaknya.
Mid-Traveler
Yang saya sebut mid traveler disini adalah mereka yang sudah cukup mapan secara finansial untuk traveling. Mereka sudah bisa merencanakan traveling secara rutin, mereka juga sudah bisa melakukan budgeting untuk kegiatan travel mereka. Buat mereka traveling sudah menjadi keharusan deh dan uangnya ada. Traveler macam ini tetap punya musuh yang harus dihadapi. Mereka-mereka ini rata-rata masih bekerja, atau masih memiliki usaha. Mereka yang bekerja, walaupun memiliki gaji yang sudah lumayan tetap terikat dengan cuti tahunan. Mereka yang berusaha sendiri, walaupun tidak memiliki jatah cuti tahunan, meninggalkan usaha terlalu lama mungkin akan menjadi pertimbangan mereka. Ya, waktu masih menjadi musuh yang menakutkan, musuh yang sama kemudian berduet dengan musuh lainnya bernama tujuan wisata, memerlukan siasat untuk melawannya. Itinerary menjadi solusinya, dengan membuat itinerary kita dapat mengontrol waktu kita agar kenang-kenangan yang diperoleh juga lebih banyak. Well, sebenarnya ada 1 masalah lagi untuk Mid-Traveler. Anak kecil. Ya walaupun gak semua sih. Rata-rata mereka membawa anak kecil dalam traveling mereka. Itinerary jelas harus dibuat, karena kita sebagai traveler tidak bisa egois hanya mengunjungi tempat-tempat yang kita senangi saja. Tetapi juga tempat-tempat yang ramah anak kecil.
High End Traveler
Keluarga kadharsian, anak-anak konglomerat, artis-artis, dan orangkaya entah siapa itu lah. Masuk kedalam kategori ini. Mereka yang ada didalam kategori ini tidak memiliki musuh berupa budget, waktu, dan keterbatasan mengunjungi tujuan wisata. Horang Kayah mah bebas !!! Buat mereka itinerary tidak perlu dibuat, mereka bisa beli itinerary nya ( read : Tour Guide) adapula yang baru pulang setelah semua tempat wisata didaerah tersebut terkunjungi. Saya juga enggan membahas mereka berlebihan 🙂 .
Tujuan Traveling kamu apa ?

(Beda besar vacation dan staycation)
Hal ini juga penting untuk kita ketahui, untuk apa kita berlibur. Apakah untuk mengejar memori atau menikmati fasilitas. Orang-orang seringkali menyebutnya Vacation dan Staycation.
Vacation
Tujuan utamanya jelas untuk collect the memories sebanyak-banyaknya. Dengan mengorbankan budget dan waktu. Yang penting saya bisa mengunjungi tempat-tampat yang belum pernah saya kunjungi dan mempunyai kenang-kenangan sebanyak-banyaknya. Untuk apa ? untuk menjadi sesuatu yang bisa diceritakan kemudian hari dan kalau perlu saya ga usah mengunjungi tempat itu lagi :). Yang dicari adalah rileks, puas, dan memori. Perlukah vacation membuat itinerary? perlu karena pada prinsipnya kita tetap harus memanage waktu kita yang berharga dan tidak semua tempat wisata harus/bisa dikunjungi. Itinerary akan membuat traveler lebih disiplin dalam berlibur, sekaligus membuat traveler lebih mengetahui daerah yang mau dikunjungi dalam proses pembuatannya.
Staycation
Istilah staycation pernah booming di Amerika Serikat ketika terjadi krisis pada tahun 2007-2010. Istilah ini untuk melabeli ketika kita memilih untuk liburan santai di rumah dan do nothing. Liburan di rumah? yes ! karena pada saat itu Amerika terkena krisis dan otomatis orang-orang di Amerika ga bisa spend their money to take a vacation. Selepas itu istilah ini masuk kedalam ranah leasure. Staycation menjadi bagian dari vacation, pergi ke suatu daerah wisata, menginap di hotel, dan do nothing hanya menikmati fasilitas dari hotel tersebut. Kira-kira prinsip ini dipakai oleh orang-orang Bandung yang pergi ke Jakarta ketika Lebaran lah. Menikmati fasilitas hotel. Perlukah Itinerary? Tidak perlu !! Yang perlu adalah make sure bahwa hotel /tempat kamu menginap dekat dengan tempat mencari makan dan tempat mencari hiburan.
Dengan siapa kita traveling ?

(Ini teman traveling saya)
Dengan siapa kita traveling juga dapat mempengaruhi penting tidaknya sebuah itinerary. Beda banget pergi sendiri, dengan pasangan, dengan keluarga, dan dengan group.
Solo Traveler
Akhir-akhir ini solo traveler semakin banyak. Bisa disebabkan oleh makin sibuknya pekerjaan kantoran dan makin maraknya freelancer. Sebagian orang sudah tidak terlalu aware dengan yang namanya traveling, pekerjaan menjadi prioritas utamanya. Sedangkan sebagian yang lain menganggap traveling itu perlu banget kayak makan nasi. Perbedaan prioritas ini yang menyebabkan banyak lahirnya solo-solo traveler. Mereka yang berani pergi sendiri mengunjungi destinasi-destinasi wisata. Perlukah itinerary bagi mereka? Perlu, pergi sendirian,apalagi kalau mengunjungi daerah-daerah yang baru, pasti kita ga mau tersesat. Itinerary yang baik akan membuat kita tidak tersesat walaupun tidak bertanya (walaupun salah satu bagian dari traveling adalah make a friends sebanyak yang kita bisa), memungkinkan menjelajah daerah yang belum terjelajah, dan merekam kenangan di tempat-tempat tersebut. Itinerary yang baik juga akan mampu menyajikan bukan hanya tempat istimewa bagi traveler, tetapi juga tempat istimewa untuk orang-orang lokal.
Group Traveler
Kebalikan dengan solo traveler. Ini adalah mereka yang pergi barengan dengan teman-teman dekat atau komunitas. Bagi mereka sebenarnya destinasi wisata tidak menjadi prioritas utama, hanya pemanis saja. Goal utamanya bukan merekam memory perjalanan tetapi mempererat hubungan satu sama lainnya. Perlukah buat mereka itinerary? Perlu gak perlu jawabannya. Saya berani taruhan, setidaknya satu orang didalam komunitas tersebut pasti ada seksi riweuhnya yang buat itinerary (setidaknya itinerary sederhana). Tetapi apakah itinerary itu akan terpakai? belum tentu juga. Karena ketika group traveler ini pergi , semua bisa jadi kenangan, bahkan kejadian-kejadian seperti nyasar juga akan menjadi sesuatu yang asik untuk diceritakan.
Family (with a kids) Traveler
Secara usia manusia juga mengalami pegeseran kepentingan (dalam traveling) yang menjadi prioritas. Saat masih single mungkin prioritasnya adalah mengunjungi tempat-tempat baru sebanyak mungkin, advanture sebanyak mungkin, buat itinerary yang mendukung prioritas kita dalam traveling yang tidak lain adalah kita sendiri. Tetapi semakin berputarnya waktu, kita akan mengalami suatu fase dimana traveling bukan hanya tentang menyenangkan diri sendiri. Ada fasenya kta traveling untuk menyenangkan hati pasangan, lalu fase kita traveling untuk menyenangkan pasangan dan anak. Ini menarik karena pasti segala sesuatu yang dipersiapkan juga harus berbeda. Mulai dari budget, waktu, dan rencana perjalanan. Ketika masih single kita hanya memikirkan diri sendiri, sekarang kita harus memikirkan keluarga juga . Contoh ketika kita single atau baru menikah, kita cukup mencocokan waktu liburan kita dengan pasangan kita, dan budget akan mengikuti. Sedangkan apabila kita sudah punya anak, kita harus menyesuaikan juga waktu traveling kita dengan waktu libur anak, wich is kebanyakan menjadi High Season, yang kemudian juga mempengaruhi budget yang harus dipersiapkan. Itinerary juga mengalami pergeseran. Ketika single mungkin tujuan-tujuan wisata dalam itinerary kita hanya untuk memenuhi leasure kita, ketika kita pergi bawa anak kita harus memikirkan leasure anak kita yang kita bawa pergi juga. Itinerary mutlak perlu dalam perjalanan dengan membawa anak, karena perbedaan kebutuhan itu. Biar sama-sama puas.
Pasangan
Pergi dengan pasangan dalam hal ini istri, itinerary perlu tidak perlu dibuat. Perlu kalau tujuan kita untuk memperoleh pengalaman sebanyak-banyaknya. Tidak perlu kalau tujuan perjalanan kita adalah untuk mempererat hubungan dengan pasangan. Buat saya pribadi perjalanan dengan pasangan selalu berkesan. Saya selalu membuat itinerary untuk perjalanan saya, walaupun gak terlalu spesifik. Itinerary yang dibuat hanya berisi tentang where to go dan what to eat saja. Penting ga penting deh itinerary ini, untuk skema pergi dengan pasangan . 🙂
Kesimpulannya perlukah itinerary? tergantung kamu menempatkan dirimu sebagai traveler macam apa. Namun bagi saya yang menempatkan diri sebagai Budget Traveler yang suka vacation dan pergi dengan pasangan, itinerary sangat penting untuk saya. Tujuannya hanya satu agar saya mendapatkan memori yang bagus tentang perjalanan saya, liburan saya menjadi efektif, dan tdak out of budget.
Bandung, 7 November 2018
Stephen Hartono
