
Pagi itu 25 Agustus 2018, saya bangun dengan antusias di hotel saya APA Hotel Nippori. Antusias karena bagian itenary hari itu adalah mengunjungi Tsukiji Fish Market yang terkenal sejagad raya itu. Dari hotel saya dan istri berjalan kurang lebih 10 menit menuju Nishi-Nippori Station, kerna kami sudah terlebih dahulu memesan tiket terusan selama 72 jam untuk subway yang sayang rasanya kalau tidak dimaksimalkan. Sebenarnya dari hotel saya ke stasiun Nippori hanya memakan waktu 2 menit jalan kaki, tetapi stasiun itu tidak melayani perjalanan dengan subway.
Perjalanan dengan kereta memakan waktu sekitar 22 menit dengan ongkos sebesar 200 yen, dengan sekali transfer di Hibiya Station. Keluar dari stasiun Tsukiji kita hanya cukup berjalan kaki lurus melewati Tsukiji Hongwaji (Viharra Budha), sebrangi jalan, petualangan (perut) dimulai. Jujur hari itu sedikit saya terganggu dengan Random Attack. Biasanya saya tahu where to go, but at that time confused banget, ga tau mau ngapain. Mungkin karena Tokyo hari itu panas banget.
Temperatur di pagi hari nyaris 35 derajat, buat saya si gemuk lucu ini, suhu segitu jelas neraka jahanam (read: nyiksa beudh). Secara di temperatur normal aja saya sudah keringatan. Sekitar 5-10 menit kami hanya berputar-putar saja, ga jelas. Sampai saya menemukan destinasi pertama saya, Daifuku. Yes, Strawberry Mochi yang terkenal dari Tsukiji Fish Market. Mochi tersedia dalam berbagai varian rasa, seperti kacang merah, custard, matcha. Sedangkan Strawberrynya ada yang berwana merah dan putih. Each 300 Yen, kami beli 2 ( kacang merah dan matcha) dengan strawberry merah di atasnya.

(Red strawberry matcha…enak nih )
Sekedar saran : Strawberry merah itu asam, campurlah dengan isian mochi yang manis, jadi balance. Strawberry putih itu manis banget, campurlah dengan isian mochi yang asam biar ga giung.

(Penampakan standnya)
Setelah itu, otak mulai jalan. Saya tahu dengan jelas tujuan selanjutnya, Tamagoyaki. Yash, telur dadar kotak khas Tsukiji seharga 100 Yen. Banyak pilihan stall yang menjual, harganya sama semua. Yang membedakan cara menyajikan. Ada 2 setidaknya cara penyajian tamagoyaki, pertama diberikan stick seperti ice cream ( ini yang saya pilih) dan yang kedua dengan diberikan alat multifungsi yang bisa untuk memotong sekaligus untuk menusuk seperti garpu. Cocok buat yang mau share tamagoyakinya. Tapi urusan rasa kurang lebih sama. Saya curiga ada template untuk cara masaknya deh, sama semua. Tamagoyaki disediakan dengan 2 rasa, manis dan asin. Kebetulan saya memesan yang manis, membuat sensasi memakannya seperti memakan kue daripada telur.

( Telur yang kotak…bingung kan)
Panas pagi itu yang hampir 35 derajat celcius membuat si gemuk lucu ini terserang panik. Panik ga tau mau ngapain, pusing , dan tangan bergetar. Tangan bergetar yang menjadi bencana di makanan selanjutnya.
Target besar hari itu jelas Salmon Tuna Bowl. Karena Tsukiji adalah pasar ikan terbesar di Jepang, so pasti sea foodnya fresh. Tidak ada restoran tujuan utama untuk urusan ini, karena semua pasti enak. Semua rata-rata mengantri. Rata-rata kedai seafood di Tsukiji menjual daging salmon,tuna, tuna otoro (perut ikan tuna yang penuh lemak), dan cacahan perut ikan tuna.

Mengantri, panas,dan antusias adalah kolaborasi maut buat saya. Sampai akhirnya saya mendapatkan mangkuk kenikmatan seharga 1200 Yen itu, bencana terjadi. Pelayan mempersiapkan, saya bayar,mangkuk siap,diberikan kepada saya, saya terima, mangkuk tumpah, sekian. !!!!!?@$^&5$ What the F!!!! My God Damn 1200 Yen. Si gemuk lucu pun diam, bengong,pusing, pasrah,kesel,dan masih kepanasan. It taste like lost 100 cup of Cendol Elizabeth.
But God saves Japanesse!! Dengan cekatan si pelayan membersihkan mangkuk saya yang tumpah, dan menggantinya dengan yang baru. Oh Bahagya!!! Salmon Tuna terbaik. Tuna nya meleleh di mulutmu, seger pol. Mangkok terbaik sepanjang sejarah pershashimian. Makin seger di banjur ocha dingin yang gratis. Karena istri saya ga bisa makan sashimi, saya sudah punya plan buat dia.
(God saved Japanese mangkok baru sehabis panik karena tumpah)
Kitsuneya Gyudon, embahnya gyudon ( nasi daging sapi) per mangkuk seharga lebih dari 1000 Yen, wajib enak. Buat mereka yang mau share makanan, please ngantrinya sendiri aja, Kitsuneya Gyudon masuk ke not sharing food. Bowlnya cukup besar sih cukup buat share, cumah harus diam- diam.

But Sadly
29 September menjadi hari terakhir buat Jonai Side Tsukiji. Karena toko-toko di Jonai side pindah ke Toyosu Market yang lebih modern. Setelah beroperasi dari tahun 1935, setengah pasar harus pindah. Isu semenjak 17 tahun yang lalu menjadi kenyataan. Tanggal 11 Oktober 2018 Toyosu Fish Market mulai beroperasi, tanggal itu pula the very first Yoshinoya di Jonai Side tinggal menjadi kenangan. Menunggu untuk dialih fungsikan menjadi stasiun bus untuk Olimpiade Tokyo 2020.
Well memories will always be a memories
Stephen Hartono
